Tuhan, Bolehkah Aku Bertanya?
Sebuah refleksi tentang pergulatan batin antara iman, takdir, dan proses panjang belajar menerima kehendak Tuhan tanpa kehilangan keyakinan.
Tuhan, Bolehkah Aku Bertanya?
Ditulis pada 26 Juli 2026
Tuhan, bolehkah aku bertanya?
Bukan karena aku kehilangan percaya kepada-Mu, melainkan karena ada bagian dari diriku yang masih belajar menerima apa yang tak mampu kupahami.
Bukankah Engkau Maha Mengetahui isi hati yang bahkan tak sanggup kuucapkan dengan kata-kata?
Lalu mengapa ada luka yang dibiarkan tumbuh begitu lama, seolah waktu sendiri tak mampu menyembuhkannya?
Aku tidak sedang mempersoalkan kuasa-Mu.
Ada hari-hari ketika dadaku begitu sesak oleh kenyataan, sementara lisanku terus dipaksa mengucap, "aku ikhlas."
Padahal, di kedalaman hati yang tak terlihat apapun, aku masih berusaha memahami arti dari kata itu.
Orang-orang berkata bahwa di balik setiap kehilangan selalu ada hikmah.
Aku ingin mempercayainya.
Sungguh.
Namun, bagaimana seseorang dapat melihat cahaya ketika matanya masih dipenuhi air mata?
Bukan karena aku menolak takdir.
Aku hanya belum menemukan cara untuk memeluknya tanpa merasa hancur.
Aku percaya bahwa setiap ketetapan-Mu tidak pernah sia-sia.
Aku percaya bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang luput dari pengetahuan-Mu.
Tetapi percaya ternyata berbeda dengan menerima.
Percaya bisa lahir dalam sekejap.
Sedangkan menerima, terkadang membutuhkan waktu yang hanya Engkau yang tahu kapan usainya.
Maka jika malam ini aku kembali bertanya, janganlah anggap itu sebagai bentuk pembangkangan.
Anggaplah itu sebagai suara seorang hamba yang sedang mencari jalan pulang menuju keikhlasan.
Sebab sesungguhnya aku tidak sedang meminta takdirku diubah.
Aku hanya memohon agar hatiku dikuatkan untuk berjalan bersama takdir itu.
Dan bila memang semua ini adalah cara-Mu membentukku, izinkan aku memahami sebelum akhirnya mampu merelakan.
Karena mungkin yang paling sulit bukanlah kehilangan.
Melainkan menerima bahwa ada hal-hal yang memang tidak ditakdirkan untuk kumiliki.
Lantas, jika pada akhirnya yang tersisa hanyalah diam dan air mata...
Apakah masih salah jika seorang hamba bertanya kepada Tuhannya?
Ataukah justru, di dalam pertanyaan-pertanyaan itulah, seorang hamba sedang belajar mengenal Tuhannya lebih dalam?
"Mungkin iman bukan berarti selalu mengerti kehendak Tuhan. Mungkin iman adalah tetap mengetuk pintu-Nya, bahkan ketika jawaban belum juga datang."
© GalhArchive